Penelitian empat ilmuwan BRIN yang dipublikasikan di jurnal Cambrige University itu menggemparkan jagat konservasi. Hasil analisis DNA komprehensif dari penelitian itu menunjukkan bahwa rambut harimau yang ditemukan di Kabupaten Sukabumi Selatan, termasuk dalam kelompok yang sama dengan spesimen Harimau Jawa koleksi Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) pada 1930. Tak lama kemudian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan adanya dugaan bahwa Harimau Jawa masih ada di alam.

Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica), adalah satu dari tiga subspecies harimau yang hanya ada di Indonesia. Kerabatnya, harimau Bali punah lebih awal sebelum Indonesia merdeka. Harimau Sumatera, kerabat lainnya yang masih bisa beranak pinak di alam liar juga terancam punah. Sepanjang tahun, berita harimau Sumatera mati terjerat mengisi pemberitaan.

Harimau amatlah lekat dengan budaya penduduk Jawa dan Sumatera. Di Jawa Barat, masyarakat mengenal kisah Prabu Siliwangi, Raja Padjajaran yang kerap dijaga kawanan maung. Pemimpinnya si maung bodas (harimau putih). Situs Arca Domas di kaki gunung Salak, yang disebut sebagai petilasan Prabu Siliwangi kabarnya sering didatangi harimau.

Peter Boomgard dalam bukunya Frontiers of Fear (Yale, 2001) menulis bahwa harimau adalah satwa keramat yang dituakan di Indonesia. Ketika harimau memangsa ternak atau bahkan manusia, keluarga di masa lalu perlu berkonsultasi dulu kepada tetua adat sebelum membalaskan dendam. Tak jarang mereka harus melakukan ritual tolak bala.

Di Jawa, budaya rampogan sima (atau rampogan macan) tak bisa dipungkiri menjadi faktor yang menggerus populasi harimau Jawa. Dalam rampogan sima (sebelum tahun 1900 digelar keraton), harimau yang ditangkap dari alam liar dilepas di sebuah lapangan dan diadu dengan kerbau atau banteng. Lapangan itu sendiri dikelilingi prajurit yang mengenakan tameng dan tombak. Jika harimau menolak diadu, para prajurit akan memprovokasi dengan besi panas maupun tombak.

Ada berbagai versi rampogan sima, yang paling terkenal sebagai pertunjukan untuk menampilkan perlawanan terhadap Belanda. Kerbau dan banteng yang kokoh dianggap sebagai personifikasi masyarakat Jawa. Sementara harimau yang dianggap buas dan licik menjadi simbol Belanda. Jika harimau kabur, atau kerbau dan banteng kalah oleh harimau, para prajurit jawa akan mengejar harimau dan menombaknya sampai mati.

Toh, rampogan sima bukan satu-satunya penyebab menyusutnya populasi harimau Jawa. Pembangunan, perluasan pemukiman dan menciutnya tutupan hutan jawa berkontribusi lebih besar atas tingginya konflik manusia-harimau di masa lalu.

Rampogan Sima 1870-1920 (Sumber: KITLV)

Nasib harimau Sumatera boleh jadi lebih baik ketimbang harimau Jawa karena faktor budaya pula. Boomgard menulis bahwa orang-orang Sumatera percaya bahwa mereka yang jahat selama hidup akan menjadi harimau ketika mati. Harimau-harimau ini perlu menjaga desa untuk menghapus dosa-dosa. Kepercayaan ini pula mungkin yang menyebabkan sinetron Tujuh Manusia Harimau bertahan lama di stasiun televisi Indonesia.

Orang Minang menyebut harimau dengan sebutan “Inyiak Balang” alias nenek moyang. Harimau adalah penjaga kampung, penjaga nagari. Konon setiap nagari di Minang memiliki harimaunya masing-masing.

Pada Juli 2021, BKSDA Sumatera Barat menangkap harimau yang berkali-kali turun ke kampung dan memangsa ternak di hutan Laut Tinggal, Kecamatan Sungai Aur, Kabupaten Pasaman Barat. Namun baru sejam ditangkap, semua tetua adat, ninik, mamak malah meminta harimau yang diberi nama “Sipogu” untuk dilepaskan lagi. BKSDA melepas satwa itu usai melakukan pemeriksaan. Benar saja, Sipogu tak pernah lagi turun ke kampung atau memangsa ternak warga.

Harimau pada dasarnya adalah satwa territorial. Dia akan menetap dan menjaga keseimbangan ekosistem itu. Semakin banyak pakan alami harimau di suatu kawasan semakin kecil pula teritorialnya. Itu sebabnya ketika harimau banyak turun ke pemukiman atau daya jelajahnya menjadi sangat tinggi, berarti habitatnya terganggu.

Jika harimau punah, jumlah herbivora (misalnya: babi hutan) akan meningkat drastis, kenaikan ini akan mengancam jumlah tanaman hutan yang akhirnya berdampak pada ketidakseimbangan ekologi. Lingkungan membutuhkan siklus seimbang antara jumlah satwa/tumbuhan di tiap tingkat piramida makanan.

***

Berita terkonfirmasinya DNA rambut Harimau Jawa di Desa Cipendeuy, Sukabumi Selatan tentulah kabar baik. Dari berbagai banyak penampakan harimau oleh masyarakat, baru kali ini kabar itu terkonfirmasi secara saintifik. Penampakan itu terjadi pada 2019, terkonfirmasi pada 2023 dan terbit di jurnal internasional pada 24 Maret 2024 lalu.

Lokasi penampakan harimau Jawa, beserta rambut dan cakaran di Cipendeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi Selatan

Dugaan keberadaan harimau Jawa di Sukabumi Selatan sebenarnya agak meleset dari habitat harimau. Berdasarkan banyak literatur, harimau itu hidup di rimba dengan ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Bukan 0-200 mdpl seperti di Desa Cipendeuy. Mungkin saja, harimau Jawa yang rambutnya nyangkut di pagar Desa termasuk macan boro—istilah untuk Harimau yang sedang berkelana.

Di antara tiga spesies harimau di Indonesia, Harimau Jawa itu ukurannya yang paling besar, warna oranye-nya lebih terang dan lorengnya lebih jarang. Harimau termasuk spesies yang sulit dipelajari.

Pemasangan kamera jebak di Taman Nasional Gunung Leuser Aceh, misalnya, hanya sempat merekam harimau Sumatera selama tiga menit. Rekaman itu juga menunjukkan harimau berusaha merusak kamera jebak. Harimau itu pada dasarnya pemburu. Dia mampu menyembunyikan dirinya dari hewan buruannya maupun manusia.

Ketika menyerang hewan buruannya, Harimau dengan cepat menyerang titik vital buruannya. Dia tahu pembuluh arteri mana yang harus segera dilumpuhkan untuk membuat buruannya tak lagi melawan. Ini disebut sebagai insting harimau. Konon harimau juga memiliki insting untuk menghindari bau logam—terutama setelah pembantaian besar pada masa tanam paksa. Secara naluri, Harimau juga menghindari konflik dengan manusia.

Mungkin saja, Harimau Jawa masih ada. Kalau melihat Google Earth, Jawa masih memiliki kawasan-kawasan dengan tutupan hutan yang rapat. Harimau Jawa bisa saja “terjebak” di wilayah rimba yang—meski terfragmentasi, secara ekologis masih seimbang. Misalnya di hutan taman-taman nasional dan gunung yang tak terjamah manusia.

Petak-petak hutan di Jawa yang terfragmentasi (Sumber: Google Earth)

Penampakan harimau Jawa lainnya meliputi Banjarnegara, Kuningan, Gunung Prau, Baluran hingga Suaka Margasatwa Cikepuh. Taman Nasional Meru Betiri yang terakhir memverifikasi penampakan Harimau Jawa pada 1976 juga mungkin menyimpan lebih banyak kawasan tersembuyi yang tidak terpantau para penjaga hutan (ranger).

Toh, kabar baik tentang Harimau Jawa juga bikin saya was-was. Dua tahun lalu, laporan investigasi Bela Satwa Project mengupas bisnis besar perdagangan kulit dan obat kuat harimau di pasar gelap. Liputan itu menulis bagaimana harimau dilumpuhkan, dikuliti dan diserahkan kepada para pengepul sebelum dikemas dengan spirtus untuk dikirim ke para kolektor di Jawa. Nilainya meningkat dari tingkatan jagal hingga pedagang akhir.

Saya hanya berharap kabar baik ini enggak mengundang para jagal harimau ke hutan-hutan jawa. Di saat yang sama, saya juga berharap penguatan kolaborasi pemerintah-masyarakat untuk menjaga kelestarian Harimau Jawa.

Di Sumatera Barat misalnya, BKSDA bekerja sama dengan Yayasan Sintas dan masyarakat untuk membentuk “Pagari” atau Patroli Anak Nagari. Ini merupakan komuntas pemuda yang berpatroli mengecek harimau masuk kampung dan melepas jerat sling yang ada di hutan. Jerat sling biasa dipakai pemburu menjerat harimau.

Pagari sudah dilatih untuk menangani konflik harimau-manusia sebelum tim BKSDA datang. BKSDA mengaku bahwa keberadaan Pagari membantu lembaganya yang hanya memiliki 50 petugas lapangan di Sumatera Barat. Padahal wilayah kerjanya mencapai 21 kawasan hutan konservasi di 15 kabupaten termasuk Mentawai.  

Kolaborasi serupa selayaknya bisa diterapkan di Jawa untuk menjaga keseimbangan lingkungan: laporan penampakan satwa, pelepasan jerat di hutan, aksi membebaskan hutan dan gunung dari sampah plastik dan semacamnya. Intinya keterlibatan masyarakat untuk menjaga lingkungan.

Bagi saya, Indonesia dan penelitinya tak perlu berusaha keras untuk mengubah status konservasi Harimau Jawa yang punah di IUCN. Selama rimba dan gunung yang masih alami tetap dibiarkan tidak tersentuh, selama habitatnya terjaga baik, Harimau Jawa seandainya masih hidup dapat berkembang biak dan lestari tanpa gangguan. Kadang-kadang ketidakpastian status konservasi justru menjadi model konservasi bagi satwa itu sendiri. Jauh dari incaran pemburu, jauh dari menjadi objek penelitian.

Karena persoalan mendasar kepunahan harimau Jawa maupun satwa lainnya bukan sekedar budaya atau perburuan tetapi persoalan ruang. Konversi lahan untuk pembangunan tiada henti telah menyusutkan ruang bagi satwa liar, sehingga menciptakan konflik sumber daya.

Kebutuhan tak terhingga akan lahan ini mengancam hutan di Jawa beralih fungsi menjadi petak-petak terisolasi yang terfragmentasi. Kondisi yang tidak mampu menopang predator besar seperti harimau.

Skenario ini memberikan gambaran yang suram mengingat populasi manusia yang terus bertambah. Pertanyaannya: bisakah manusia belajar berbagi tanah ini dengan makhluk lain— khususnya predator puncak seperti harimau Jawa?

Jawabannya memerlukan perubahan cara pandang, meninggalkan antroposentrisme dan menuju hubungan yang lebih seimbang  dengan alam. Perjuangan untuk Harimau Jawa bukan hanya soal kelangsungan hidup sebuah spesies. Ini adalah ujian atas kemampuan manusia untuk hidup berdampingan dengan alam, sebuah tanggung jawab yang harus kita berikan kepada generasi mendatang.

Saya masih berharap, suatu hari nanti, kesunyian hutan Jawa akan tergantikan oleh auman harimau yang kembali mendapatkan kembali tempatnya sebagai raja rimba.

***

REFERENSI (klik di sini)

1. Wirdateti. Yulianto., Raksasewu, Kalih., & Adriyanto,B. (2024, 21 Maret). Is the Javan tiger Panthera tigris Sondaica extant? DNA Analysis of a recent hair sample. Cambrige University Press. Diakses 3 April 2024, dari https://www.cambridge.org/core/journals/oryx/article/is-the-javan-tiger-panthera-tigris-sondaica-extant-dna-analysis-of-a-recent-hair-sample/5F407FD1D97836F8C26DE46CCFA08D73

2. Ramadhan, Reza Aditya. Nabila, Ainun. Subagja, Indra. (2024, 26 Maret). KLHK: Harimau Jawa Kemungkinan Masih Ada di Alam. Diakses 3 April 2024, dari https://kumparan.com/kumparannews/klhk-harimau-jawa-kemungkinan-masih-ada-di-alam-22QJy1AAcX6/full

3. Yayasan Sintas Indonesia. Agustus 2021. Hiduik Badakekan jo Inyiak Balang : Buku Saku Mitigasi Konflik Manusia – Harimau. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

4. Boomgaard, Peter. 2001. Frontiers of Fear: Tigers and People in the Malay World, 1600-1950. Yale University Press

5. Wibisono, Hariyo T. et.al. 2017. Panduan Pemantauan Populasi Harimau Sumatera. Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK

6. Siswoyo, Harry & Herlina, Betty. (2022, 29 Juli). Tragedi harimau sumatera: Hidup dijagal, mati dijual [1], Diakses 3 April 2024 dari https://www.ekuatorial.com/2022/07/tragedi-harimau-sumatera-hidup-dijagal-mati-dijual-1/

7. Megarani, Amandra. (2002, 1 Mei). Hikayat Lokal untuk Konservasi Harimau Sumatera. Diakses 3 April 2024 dari https://www.forestdigest.com/detail/1710/harimau-sumatera-solok


Tulisan ini merupakan satu bagian dari empat tulisan tentang berbagi ruang dengan hewan besar endemik di Indonesia. Bagian berikutnya akan membahas Gajah Sumatera, Badak Jawa dan Orangutan.

Tantangan Blog MGN


Eksplorasi konten lain dari Ekosentris.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

6 tanggapan untuk “Melacak Jejak Harimau Jawa”

  1. […] tentang berbagi ruang dengan hewan besar endemik di Indonesia. Tulisan sebelumnya telah membahas Harimau Jawa. Sementara, tulisan selanjutnya akan Gajah Sumatera, Badak Sumatera dan […]

    Suka

  2. Aku suka harimau dan singa. Hewan ini ternyata sudah hampir punah ya teh Andra. Sedih …
    Terima kasih sudah nulis dan baru bisa turut berdoa agar mereka tidak punah.

    Suka

  3. Seruunya baca tulisan ini. Mengingatkan kembali bahwa bumi tidak selalu hanya tentang manusia, tetapi juga hewan di dalamnya. Masih takjub dengan yang bisa menemukan helai rambut harimau, kok bisa sadar itu rambut harimau ya

    Suka

  4. Andra, riset untuk tulisan ini luar biasa. Bagus, Ndra.

    Memprihatinkan ya. Waktu itu di Netflix juga ada kisah serupa tentang bagaimana masyarakat India di suatu desa bisa hidup damai dengan gajah. Terharu sekali lihatnya.

    Semoga semua manusia bisa (dan mau) coexistens dengan segala jenis hewan di bumi ini.

    Suka

  5. […] tentang berbagi ruang dengan hewan besar endemik di Indonesia. Tulisan sebelumnya telah membahas Harimau Jawa dan Gajah Sumatera. Sementara, tulisan selanjutnya akan membahas […]

    Suka

  6. […] liar hanya tersisa sekitar 150 individu. Angka ini menempatkannya sebagai salah satu subspesies harimau paling terancam punah di […]

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Jalan Aman untuk Gajah Sumatera – Ekosentris.id Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Ekosentris.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca